Monday, August 16, 2010

Mengapa Geodesi?

Mengapa saya kuliah di jurusan geodesi?

Banyak jawabannya

Padahal dulu waktu saya baru lulus SMA, saya bahkan tidak tau apa itu geodesi. Karena seorang teman ada yang sangat berminat untuk kuliah di jurusan ini, maka saya pun bertanya ke bapak saya.

saya: “Pah, geodesi tu jurusan tentang apa si?”
papa: “Itu, misalnya ntar kalo mau ngebangun rumah ato gedung apa gitu, sebelum dibangun diperiksa dulu sama orang geodesi, tempat itu layak gak dibikin bangunan itu. Survey2, ngukur2.”
saya: “ooh…” (padahal masih ga ngerti, tapi cukup ada gambaran)

Well, SMPB 2007 saya pilih jurusan FK unsri dan FTSL ITB. Saya pilih FTSL bukan karena geodesi ada disana, tapi emang minatnya ke sipil atau lingkungan. beuh, tapi ternyata saya gak lulus SPMB.

USM ITB 2008, saya pilih FTTM, FTSL (kembali) dan FITB. Ternyata saya keterima di FITB, yang terdiri dari jurusan geologi, oseanografi, meteorologi, dan geodesi. Wah, ceritanya pada tahun tersebut geodesi pindah fakultas ke FITB, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian. Dan nama Teknik Geodesi ditambah jadi Teknik Geodesi dan Geomatika. Makin ga ngertilah saya. Lagipula, sebelah mana bumi nya sih, geodesi? (pemikiran saya waktu itu).

Setelah ada pengenalan tiap jurusan, baru saya rada ngerti apa itu geodesi. Geodesi mempelajari tentang pemetaan. Begitulah pemahaman saya pada waktu itu, tapi saya tetap tidak menaruh minat di jurusan tersebut. Pilihan pertama saya tetap Teknik Geologi karena gambaran saya tentang jurusan ini cukup jelas berhubung om saya juga orang geologi, dan karena memang yang paling favorit di FITB itu ya geologi.

Bersusah payah saya berjuang buat dapet nilai bagus selama kuliah, biar bisa masuk jurusan geologi. Tapi cari nilai bagus di ITB itu emang bener2 susah ya. Dua semester awal telah dilewati dan IPK saya hanya kepala 2 point middle lah. Penjurusan udah di depan mata, kuesioner jurusan harus udah diisi. Saya masih keukeuh pengen ke geologi, tapi ga sadar diri kalo IPK cuma segitu. Temen2 yang lain udah banyak yang pindah haluan ke geodesi. Tapi saya tetap juga bersikeras mengharapkan keajaiban datang membawa saya ke geologi. Dengan urutan pilihan geologi, geodesi, oseanografi, dan meterologi, saya maju terus dan tak lupa terus berdoa.
Tapi memang Allah itu selalu mendengar doa hamba-Nya. Seperti yang tercantum dalam Al-Quran surat Qaaf:16

Dan sungguh, kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan
oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya

Secara tiba-tiba di malam sebelum hari terakhir batas pengisian kuesioner, saya berhasrat untuk mencari tau lebih jauh lagi tentang apa itu geodesi. Lebih spesifik lagi, saya mencari tau tentang geodesi dan geomatika ITB dengan membuka situs resmi ITB. (kenapa nggak dari dulu ya). Dan sampailah saya terdampar di situs biodata mahasiswa sepanjang masa. Awalnya saya malas baca komen2 yang ada disana, secara ada banyak banget. Tapi godaan itu ada aja, gitu. Lantas saya baca lah semua komen yang ada di sana, dan saya merasa telah mengupas tuntas geodesi setelah baca itu. hahahaha.

Mulai dari kalimat “viva geodesi!!!!” yang diucapkan dengan berapi2 yang banyak ditulis di komen itu saja udah bikin hati saya gemeteran. Belum lagi saya mendapat istilah baru, iterasi, padahal waktu itu saya gak paham apa artinya. Sekarang sih tau banget. Hehehe. Ada satu kata lagi yang bikin hati saya tergugah. Anak2 geodesi (IMG) saling memanggil diri mereka dengan sebutan kamerad. Saya gak tau apakah angkatan saya (2008) sudah menjadi kamerad juga atau belum karena saya gak tau bagaimana teknis kata kamerad tersebut dipakai.

Geodesi yang saya kira gak ada bumi-buminya malah justru yang paling bumi banget daripada tiga jurusan lain di FITB. Geologi jelas tentang daratan, ada laut2nya juga dikit. Oseanografi jelas laut lah. Meteorologi jelas banget udara. Ternyata, di geodesi kami mempelajari ketiga-ketiganya. Geodesi mencakup darat, air, dan udara. Survey dan kadaster untuk daratnya, hidrografi untuk lautnya, InSIG (inderaja) untuk udaranya, dan geodesi (lanjutan) yang melengkapi ketiganya. Geodesi adalah ilmu penentuan bentuk geometris bumi, kinematika bumi, medan gaya berat bumi, dan evolusi waktunya (German Geodesy Research Institute, 2008). Geodesi adalah ilmu pengukuran dan penggambaran bentuk muka bumi (Helmert, 1880). Gimana gak bumi banget.

Motif lain yang membuat saya balik badan untuk memilih geodesi adalah, seseorang bernama Hasanuddin Zainal Abidin. Yang saya tau dari komen biodata tersebut, beliau adalah mahasiswa ITB angkatan 70-an jurusan Teknik elektro. Tapi beliau pindah jurusan karena minatnya itu di jurusan teknik geodesi, bukan elektro. Untuk pindah jurusan di ITB itu sulit setau saya. Banyak syarat akademik yang harus dipenuhi sebelum dan setelah pindah. Kalau tidak bisa dipenuhi, maka sanksinya DO. Lanjut, kemudian beliau (Pak Hasan) setelah lulus menjadi dosen di geodesi ITB. Hanya sebatas itu pengetahuan saya tentang beliau pada saat itu, dan sejak saat itu saya pun mengidolakan beliau. Pak Hasan saja yang mahasiswa Elektro, jurusan terbaik se-ITB rela melepas jurusannya demi geodesi, jadi kenapa juga saya mesti minder dan takut untuk kuliah di jurusan ini. Setelah masuk jurusan dan mencari tau tentang Pak Hasan, ternyata beliau itu bukan hanya dosen. Beliau juga profesor dan sekarang menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Komunikasi dan Informasi. Wah, saya makin termotivasi di geodesi. Seperti mimpi, sekarang saya diajar oleh beliau untuk mata kuliah geodesi satelit. Saya sangat semangat kuliah geosat ini, bahkan di kelas saya gak ngantuk, gak kaya biasanya.

Geodesi, jika tidak hanya diteropong lewat total station itu luas. Bisa kemana-mana. Dimulai dari (0,0,0) cara berpikirnya logis berdasarkan 3 dimensi. Jangan pernah minder dengan jurusan sipil, tambang, minyak, dll. Dimanipulasi sedikit saja data2 yang ada, tidak akan berdiri gedungmu, tidak akan bagus jalanmu, akan amburadul tambangmu, akan ngaco interpretasi sumber minyakmu. (Kalimat favorit saya di komen itu). Bahkan TNI sekalipun bergantung pada orang geodesi. Mungkin ya, suatu hari nanti geodesi bakal kaya elektro gitu yang beranak 5 jurusan trus bikin fakultas sendiri. Fakultas geodesi dan geomatika dengan program studi/jurusan hidrografi, surveying kadaster, InSIG, dan geodesi (murni), who knows?

Alumni geodesi tersebar dimana-mana. Kerja di BPN, bakosurtanal, dishidros, LAPAN mah pabalatak ya. Gitu juga yang di perusahan minyak dan tambang, katanya alumni dari macem2 angkatan banyak yang ketemu disana. Bisa juga kerja di industri hutan, perencanaan dan infrastruktur, TNI, ada juga yang jadi bupati dan walikota, kerja di perbankan & sektor keuangan, badan intelegensi yang lagi ngetren di luar, offshore survey, oil company, perkebunan, dll. Ada alumni yang jadi dosen FSRD UnTar jkt. Kenapa bisa? Katanya beliau bisa ajarin layout dan tata warna karena kuliah kartografi, ngajarin fotografi karena kuliah fotogametri, dan teknologi informasi karena kuliah komputer elektronik. Kemaren2, temen saya yang anak informatika bingung kenapa saya (anak geodesi) tau tentang bilangan biner2an, lah wong itu diajarin di kuliah Komputasi Data Spasial. Beberapa bulan yang lalu dosen Geodesi Geometrik saya, Pak Piping bilang ada alumni geodesi ITB, cewe, yang kerja di NASA bahkan. WOOOOOOW!!! Cita-cita saya waktu kecil buat jadi astronot berarti masih mungkin bisa tercapai ya. Hahaha….
Jurusan ini penuh dengan sensor/alat ukur & metode, bisa diprogram, bisa di
mapping. Semuanya full colour dan menarik (Eddy Prahasta, 2008)
Kayaknya harusnya saya buat tulisan ini dari dulu ya, waktu dikasih tugas osjur buat essay tentang “motivasi masuk geodesi”. Haha.. Tidak ada kata terlambat. Mudah-mudahan tulisan saya ini berguna buat lebih mengenalkan lagi geodesi ke dunia luar.

VIVA GEODESI!!!